Kala itu, konsep pembangunan megaproyek dengan tenggat waktu yang singkat ini, mengundang pesimisme banyak pihak, meski pada akhirnya proyek ini berhasil dan acara berskala internasional itu sukses digelar. Di sinilah peran para kontraktor, insinyur, arsitek, desainer, dan pekerja bangunan dari anak bangsa patut mendapatkan apresiasi. Megaproyek ini bisa diselesaikan dengan tepat waktu dengan rancangan dan desain lokal yang berstandar internasional. Pembangunan proyek ini juga bersifat khusus, karena didanai investasi swasta, bukan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Agar misi khusus ini berhasil, hal pertama yang dilakukan adalah mencari referensi akan seperti apa nantinya gedung tersebut dibangun. Peralatan dan perlengkapan apa saja yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan event besar sekelas KTT. Sebelumnya, di Indonesia belum pernah ada penyelenggaraan event internasional sebesar KTT ini. Bahkan, Departemen Luar Negeri, instansi pemerintah yang bertanggung jawab terhadap penyelenggaran KTT di Jakarta juga belum memiliki pengalaman menangani event semacam ini. Pontjo pun berinisiatif untuk berangkat bersama timnya, diantaranya Nugroho Sugiri, Teddy Boen, dan Radlia Mattalatta (Lia), mengunjungi gedung kantor pusat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat (AS) untuk studi banding dengan pertimbangan karena kantor pusat PBB ini sering menyelenggarakan pertemuan yang dihadiri oleh kepala negara dari berbagai penjuru dunia.
Kutipan buku "Jakarta Convention Center-Jejak Langkah Pelopor MICE Indonesia"