Others

Kutipan buku "Jakarta Convention Center-Jejak Langkah Pelopor MICE Indonesia " part 6

KTT 1992 dan 1994 itu berjalan sukses. Namun, tantangan berikutnya muncul, yaitu bagaimana mengoptimalkan gedung megah JHCC pasca dua KTT itu. Karena waktu yang singkat sehingga tidak sempat membuat perencanaan bisnis (business plan) untuk JHCC selanjutnya. Bisnis MICE (Meetings, Incentives, Conventions and Exhibitions) pun masih terdengar asing di telinga orang Indonesia. Jadi, business plan yang dibuat pasca KTT lebih mengandalkan pada kreativitas. Acara seperti pameran, event dan konferensi hanya menggunakan maksimal 5% ruangan atau sekitar 1.500 m² saja. Event organizer (EO) juga tak banyak, antara lain Debindo, Mediatama, Ad House, Gapatri dan Indomarcom. Mereka juga belum memiliki ide untuk kegiatan di JCC. Pihak JCC menyarankan agar EO mencoba untuk ikut memasarkan. EO pun bersedia dengan syarat untuk pembayaran sewa ruangan disesuaikan dengan kemampuan keuangan mereka saat itu. JCC pun setuju. Sejak saat itu kantor JCC mulai ramai didatangi EO yang menawarkan berbagai kegiatan.

Kutipan buku "Jakarta Convention Center-Jejak Langkah Pelopor MICE Indonesia"

Kutipan buku
social