Penyelenggaraan Konferensi Tingkat Tinggi ke-10 Gerakan Non-Blok (Non-Aligned Movement Summit) 1992 menjadi momentum yang tepat untuk mendorong bisnis MICE berkembang di tanah air.
Tidak disangka, selama kurun 1997-1998, krisis moneter melanda negara-negara di Asia, termasuk Indonesia. Terjadi pergolakan politik nasional yang berdampak pada berbagai sektor, khususnya sektor pariwisata yang sangat erat dengan industri MICE.
Masa-masa krismon itu benar-benar sulit bagi bisnis termasuk JCC. Namun, setahun kemudian, pada 1-7 Maret 1999, Asosiasi Penyelenggara Pameran Dagang Jerman menggelar Technogerma ’99 di JCC yang menampilkan teknologi baru Jerman. Technogerma mejadi titik balik bagi JCC melewati badai krismon 1998. EO menilai Jakarta sudah aman, dan kegiatan terkait MICE pun sudah bisa digelar kembali.
Setelah kegiatan bisnis relatif berjalan normal kemudian tak disangka, pada 2019, pandemi Covid-19 (Corona Virus Disease 2019) mengejutkan dunia dan menyebar juga ke Indonesia. Mulai Maret 2020 pemerintah memberlakukan kebijakan pembatasan mobilitas penduduk dan jaga jarak yang ketat. Tentu saja, hal ini berpengaruh pada bisnis dan kegiatan yang diselenggarakan di JCC.
Meskipun pada masa pandemi JCC kehilangan beberapa karyawan akibat mengundurkan diri atau pensiun dini, namun demikian, manajemen JCC tidak melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Ternyata, kebijakan tidak memberlakukan PHK ini menjadi salah satu faktor pendorong JCC bisa cepat bangkit saat menghadapi krisis akibat pandemi tersebut.
Kutipan buku “Jakarta Convention Center-Jejak Langkah Pelopor MICE Indonesia”